Ribuan Babi Mati Akibat Virus African Swine Fever di Sumatra Utara. Bahayakah Bagi Manusia?

0
299
Virus Afican Swine Fever atau Demam Babi Afrika
Virus Afican Swine Fever atau Demam Babi Afrika. (Manan VatsyanyanaAFP/Getty Images)

Dilaporkan oleh Kompas.com sejak Agustus 2019 hingga awal Desember 2019 telah ada sekitar 20.500 ekor babi yang mati akibat virus African Swine Fever (ASF) di Sumatra Utara.

Kesimpulan tersebut diumumkan setelah Balai Veteriner Medan setelah melakukan pengamatan gejala klinis, perubahan patologi dan pengujian laboratorium dengan mengambil sampel darah dan organ tubuh babi yang telah mati.

Penelitian tersebut dilakukan pada bulan Oktober menggunakan Real Time PCR atau teknik yang digunakan untuk memonitor progress reaksi PCR pada waktu yang sama. Hasilnya menunjukkan bahwa sampel yang diambil positif terdapat virus African Swine Fever (ASF).

Baca juga: Benarkah Menginjak Kecoa Dapat Menyebabkan Infeksi Cacing di Kaki? Ini Faktanya!

Pengertian African Swine Fever (ASF)

ASF atau Demam Babi Afrika merupakan virus dari famili Asfarviridae dan genus Asfivirus yang dikolompokkan dalam grup I sistem klasifikasi Baltimore atau virus DNA dengan untai ganda. ASF sangat berbahaya bagi babi karena dapat menyebabkan kematian masal.

Penularan virus ASF atau demam babi ini dapat melalui pernapasan, mulut dan ingusti makanan atau minuman babi. Selain itu, kontak dengan benda yang tekontaminasi virus ASF seperti peralatan, pakaian atau sepatu dapat menyebabkan babi tertular ASF.

Ketika virus ini mewabah maka penularannya bisa begitu cepat menyerang seluruh kawanan babi, baik babi domestik atau pun babi hutan (liar). Hal ini seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum PDHI, Drh H Muhammad Munawaroh MM yang dikutip dari Kompas.com.

“ASF ini terjangkit di hampir semua negara dan juga termasuk virus yang sangat mudah dan cepat sekali penyebarannya,” ucapnya.

Negara di Asia yang telah terdampak virus ASF

1. China

Di wilayah Asia, pertama kali virus ASF mewabah di negara China pada tahun 2018 dan tercatat terdapat 158 kasus di 32 provinsi.

Tidak ingin semakin memburuk, pemerintah setempat memusnahkan sebanyak 1.170.000 ekor babi untuk menghentikan penyebaran virus ini.

2. Vietnam

Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan (MARD) Vietnam menyatakan bahwa terdapat kasus virus ASF pada bulan Februari 2019.

Setidaknya 5 juta ekor babi dimusnahkan untuk menghentikan penyebaran virus ini. Selain memusnahkan, MARD Vietnam juga mengeluarkan panduan tentang penanganan dan pembuangan babi yang terinveksi virus ASF.

Tak sampai di situ, pemerintah melalui MARD mengeluarkan aturan dalam mengontrol pengangkutan babi untuk pembibitan dan pertanian komersial di dalam dan di luar wilayah.

3. Kamboja

Melalui Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan negera Kamboja mengkonfimrasi bahwa terdapat kasus ASF di 5 provinsi pada 2 April 2019.

Tidak ada angka pasti berapa jumlah babi yang dimusnahkan namun pemerintah Kamboja telah mengambil langkah konkrit dengan mengendalikan pergerakan babi dan daging babi dengan ketat.

Selain itu, dilakukan juga pengetatan biosekuriti pertanian dan menguji hewan di rumah potong untuk memastikan tidak ada virus ASF yang tersisa.

4. Filipina

Pertama kali virus ASF terdeteksi pada 25 Juli 2019 di 11 provinsi yang ada di Pulau Luzon, terpaksa 15.000 ekor babi dimusnahkan dan pemerintah telah mengambil langkah cepat untuk pencegahan virus ASF agar tidak mewabah lebih luas dengan peraturan 1-7-10.

Setiap babi dalam radius 1 kilometer dari peternakan yang terkena virus ini maka wajib untuk dimusnahkan.

Sedangkan peternakan babi dalam radius 7 kilometer dari penyebaran virus harus diawasi secara ketat.

Sementara peternakan dalam radius 10 kilometer dari kasus virus ASF harus menyerahkan laporan kepada pemerintah.

Belum ada obat atau vaksin untuk penyakit ASF

Para ilmuan terus berusaha untuk menciptakan vaksin yang ampuh untuk menghentikan bahaya penyakit ASF terhadap babi. The Roslin Institute di Inggris tengah melakukan pengeditan gen agar babi menjadi lebih kebal terhadap virus ASF.

Sejauh ini cara yang paling tepat agar babi tidak terjangkit virus ASF adalah dengan menjalankan biosekuriti yang baik dan segera untuk memusnahkan babi yang terkena virus ASF secepat mungkin.

Serta melaporkan jika terdapat kasus ASF kepada pemerintah agar segera dilakukan penghentikan penyebaran virus ASF ke peternakan atau babi lain.

Selain itu, pemberian pakan yang baik bukan dari sisa makanan dari hotel atau restoran juga termasuk upaya agar babi tidak terkena virus ASF. Agar semakin optimal, maka lakukan langkah-langkah berikut ini:

  • Menjaga kebersihan kandang.
  • Memisahkan babi yang sehat dengan yang sakit.
  • Tidak mengizinkan orang asing berkunjung ke pertenakan babi.
  • Mensterilkan alas kaki (sepatu) menggunakan desinfektan sebelum masuk ke kandang.
  • Segera melaporkan jika terdapat beberapa babi sakit secara bersamaan ke petugas atau dinas terkait.

Bahayakah virus ASF terhadap manusia?

Walau begitu, ASF tidak berbahaya bagi manusia meski kita bersentuhan langsung dengan babi atau pun memakan daging babi yang terjangkit virus ASF.

Virus ASF pun tidak ditemukan pada fases atau kotoran orang yang memakan daging babi meski pun babi tersebut terjangkit penyakit demam babi.

Ditegaskan oleh Munawaroh “Penyakit ASF pada babi tidak akan menular ke manusia dan juga hewan lainnya,” tegasnya seperti dikutip dari Kompas.com.


Layanan home care perawat medis, perawat orang sakit, perawat lansia dan perawat bayi atau anak

Insan Medika adalah perusahaan home care terbaik di Indonesia yang telah banyak mendapatkan berbagai penghargaan dari dalam dan luar ngeri. Dapatkan layanan keperawatan berkelas seperti: Perawat Medis, Perawat Orang Sakit, Perawat Lansia dan Perawat Bayi/Anak. Pemesanan cepat, harga transparan dan garansi tak terbatas. Hubungi sekarang!

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here