Komunikasi Efektif pada Lansia

0
247
Komunikasi efektif pada lansia adalah komunikasi interpersonal yang sangat penting dalam membangun hubungan yang baik antara perawat dan lansia si sebuah panti jompo.

Komunikasi efektif pada lansia adalah komunikasi interpersonal yang sangat penting dalam membangun hubungan yang baik antara perawat dan lansia di sebuah panti jompo. Melalui komunikasi interpersonal, perawat dapat mengetahui bagaiana membentuk hubungan yang baik dengan orangtua, menyebabkan rasa nyaman untuk orangtua di saat menghabiskan hari-harinya di sebuah panti jompo. Untuk membentuk efektivitas komunikasi interpesonal, khususnya antara perawat dengan lansia, panti jompo dipengaruhi lima aspek yang harus dipertimbangkan, yaitu :

  1. Keterbukaan
  2. Empati
  3. Perilaku Positif
  4. Sikap Mendukung
  5. Kesetaraan

Komunikasi Terapeutik

Ciri hubungan atau komunikasi terapeutik adalah berpusat pada klien lansia, menghargai klien lansia sebagai individu yang unik dan bebas, serta meningkatkan kemampuan klien lansia untuk berpartisipasi dengan aktif dalam mengambil keputusan mengenai pengobatan dan perawatnnya. Selain itu, juga dengan menghargai keluarga, kebudayaan, kepercayaan, nilai-nilai hidup, dan hak asasi dari lansia. Perawat harus menghargai pricasi dan kerahasiaan klien lansia, saling percaya, dan saling menerima. Hubungan membantu ini akan lebih efektif apabila ada rasa saling percaya dan saling menerima antara perawat atau pemberi asuhan dengan lansia. selain itu, perawat sebagai pemberi asuhan harus menunjukkan rasa peduli pada kliennya (lansia) dan mau membantunya. Seseorang perawat atau pemberi asuhan yang mendengarkan klien lansia tidak saja memakai telinganya tetapi seluruh eksistensi dirinya. Perawat atau pemberi asuhan memfokuskan seluruh perhatiannya tidak pada apa yang disampaikan lansia, tetapi bagaimana lansia itu menyampaikannya.

Proses Komunikasi pada Lansia

Proses komunikasi merupakan bagian intergral untuk mendapatkan fakta-fakta yang memicu atau memperburuk perilaku yang sulit. Pengasuh harus dapat berkomunikasi secara efektif dengan orang tua, keluarga, dan staf lain secara profesional. Hasilnya, komponen dasar dari proses komunikasi diperkenalkan dan diterapkan pada lansia. Menurut Jeanny Ivones (2010), proses komunikasi pada lansia berikut :

  1. Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dan lama wawancara.
  2. Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab, berkaitan dengan pemumduran kemampuan untuk merespons verbal.
  3. Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang sosiokulturalnya.
  4. Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia kesulitan dalam berfikir abstrak.
  5. Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan respons nonverbal, seperti kontak mata secara langsung duduk, dan menyentuh pasien.
  6. Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien dan distress yang ada.
  7. Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan dari wawancara pengkajian.
  8. perawat harus memperhatikan respons pasien dengan mendengarkan dengan cermat dan tetap mengobservasi.
  9. Tempat mewancarai diharuskan tidak pada tempat yang baru dan asing bagi pasien.
  10. Lingkungan harus dibuat nyaman dan kursi harus dibuat senyaman mungkin.
  11. Lingkungan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi yang sensitif terhadap suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan.
  12. Perawat harus mengonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga pasien atau orang lain yang sangat mengenal pasien.
  13. Memerhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara.

Metode Komunikasi pada Lansia

Perawat atau pemberi asuhan harus dapat menunjukkan kesiapan mendengarkan klien lansia . Kesiapan ini ditunjukkan dengan :

  1. Duduk tegak, rileks, dan menghadapkan lansia secara muka dengan muka. Posisi ini menunjukkan “saya siap dan mau mendengarkan”.
  2. Mempertahankan kontak mata.
  3. Tubuh perawat atau pemberi asuhan sedikitn membungkuk atau sikap menghormat ke arah lansia.
  4. Mempertahankan sikap tubuh yang terbuka.
  5. Mempertahankan posisi tubuh yang rileks, memang sulit untuk mempertahankan posisi tubuh yang rileks penuh karena mendengarkan dengan seluruh “dirinya” perawat sudah mengeluarkan banyak tenaga. Akan tetapi, suasana tegang dapat dicegah dengan memberi sedikit waktu sebelum perawat memberi tanggapannya, memberi waktu untukm berdiam sejenak, dam menggunakan isyarat yang tepat dan membantu.

Strategi Komunikasi dengan Lansia yang Mengalami Penurunan Fungsi.

A. Teknik komunikasi yang perlu diperhatikan selama berkomunikasi dengan lansia yang mengalami gangguan penglihatan :

  1. Perawat sedapat mungkin mengambil posisi yang dapat dilihat oleh klien lansia, bila ia mengalami kebutaan parsial atau memberitahu secara verbal keberadaan atau kehadirannya.
  2. Perawat menyebutkan identitasnya dan menyebutkan nama secara perannya.
  3. Perawat berbicara dengan menggunakan nada suaea normal karena kondisi lansia tidak memungkinnya menerima pesan nonverbal secara visual.
  4. Nada suara perawat memegang peranan besar dan bermakna bagi lansia.
  5. Jelaskan alasan perawat menyentuh sebelum melakukan sentuhan pada lansia.
  6. Ketika perawat akan meninggalkan ruangan atau hendak memutus komunikasi atau pembicaraan, informasikan kepada lansia.
  7. Orientasikan lansia pada suara-suara yang terdengar di sekitarnya.
  8. Orentasikan lansia pada suara-suara yang terdengar di sekitarnya.
  9. Orientasikan lansia pada lingkungannyabila lansia dipindahkan ke lingkungan yang asing baginya.

B. Teknik komunikasi yang dapat digunakan ada klien lansia dengan gangguan pendengaran :

  1. Orientasika kehadirat perawat dengan menyentuh lansia atau memposisikan diri di depannya.
  2. usahakan menggunakan bahsa yang sederhana dan berbicara dengan perlahan untuk memudahkan lansia membaca gerak bibir perawat.
  3. Usahakan berbicara dengan posisi tepat di depan lansia dan pertahankannya sikap tubuh serta mimik wajah yang lazim.
  4. Jangan melakukan pembicaraan ketikam perawat sedang mengunyah sesuatu (misalnya permen).
  5. Gunakan bahasa pantomim bila memungkinkan dengan gerakan sederhana dan perlahan.
  6. Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila diperlukan dan perawat mampu melakukannya.
  7. Apabila ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan, sampaikan pesan dalam bentuk tulisan atau gambar (simbol).

C. Berikut yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi dengan lansia yang mengalami gangguan wicara:

  1. Perawat memerhatikan mimik dan gerak bibir lansia.
  2. Usahakan memperjelas hal yang disampaikan dengan mengulang kembali kata-kata yang diucapkan lansia.\
  3. Mengendalikan pembicaraan supaya tidak membahas terlalu banyak topik.
  4. Memerhatikan setiap detail komunikasi sehingga pesan dapat diterima dengan baik.
  5. Bila perlu, gunakan bahasa tulisan dan simbol.
  6. Bila memungkinkan, hadirkan orang yang biasa berkomunikasi lisan dengan lansia untuk menjadi mediator komunikasi.

D. Berikut yang perlu hal-hal diperhatikan dalam berkomunikasi dengan lansia yang mengalami gangguan kesadaran:

  1. Perawat harus hati-hati ketikam melakukan pembicaraan verbal dekat dengan lansia karena ada keyakinan bahwa organ pendengaran merupakan organ terakhir yang mengalami penurunan kemampuan menerima rangsangan pada individu yang tidak sadar.
  2. Perawat harus mengambil asumsi bahwa lansia dapat mendengar pembicaraan kita.
  3. Perawat harus memberi ungkapan verbal sebelum menyentuh lansia.
  4. Upayakan mempertahankan lingkungan setenang mungkin untuk membantu lansia berfokus pada komunikasi yang dilakukan.

E. Berikut yang perlu hal-hal diperhatikan dalam berkomunikasi dengan lansia yang mengalami penurunan daya ingat:

  1. Lupa kejadian yang baru saja dialami
  2. Kesulitan dalam melakukan pekerjaan sehari-hari.
  3. Kesulitan dalam berbahasa.
  4. Disorientasi waktu dan tempat.
  5. Tidak mampu membuat pertimbangan dan keputusan yang tepat.
Jasa Layanan Perawat Home Care Terbaik di Rumah
Insan Medika adalah perusahaan home care terbaik di Indonesia yang telah banyak mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri. Terdapat 4 layanan keperawatan profesional: PERAWAT MEDIS, PERAWAT ORANG SAKIT, PERAWAT LANSIA dan PERAWAT DISABILITAS. Pemesanan cepat, harga transparan dan garansi tak terbatas. Hubungi sekarang!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here