Memprediksi Alzheimer menggunakan AI
Memprediksi Alzheimer menggunakan AI. Credit: medtechasia.in

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) atau biasa disebut dengan AI adalah kecerdasan entitas ilmiah yang ditambahkan pada suatu sistem untuk dapat diatur dalam konteks ilmiah. AI dibuat dalam rangka untuk mencapai tujuan dengan menyelesaikan data eksternal yang benar.

Sama halnya dengan kita, manusia harus mendapatkan data-data, mempelajar dan mengembangkan metode tertentu untuk mendapatkan atau mencapai tujuan tertentu. AI juga seperti itu, harus mendapatkan data untuk dipelajari sampai akhirnya AI dapat memecahkan masalah dengan lebih cepat dan efisien daripada manusia.

Belakangan perkembangan Kecerdasan Buatan telah merambah ke berbagai sektor, baik design, seni hingga kesehatan di bidang medis. Di dunia medis sendiri, AI dibuat untuk mencari dan memprediksi penyakit dan obat penyembuhannya. Salah satu penyakit yang sampai sekarang terus diteli menggunakan AI adalah Penyakit Alzheimer.

Penyakit Alzheimer adalah suatu penyakit yang menyerang saraf pada otak yang mengakibatkan otak menjadi mengkerut dan mengecil sehingga mengakibatkan otak akan kehilangan fungsinya.

Sampai detik ini belum dapat dijawab oleh para peneliti mengenai apa yang menyebabkan penyakit Alzheimer. Melalui kecerdasan buatan, para peneliti menggunakan algoritma untuk mempelajari dan memprediksi secara akurat penyakit Alzheimer.

Sampai saat ini kecerdasan buatan terus dikembangkan, hasilnya AI tersebut telah mampu memprediksi kemungkinan munculnya penyakit Alzheimer sampai dengan 6 (enam) tahun sebelum didiagnosis oleh dokter.

Sebuah kemajuan yang luar biasa, mengingat penyakit Alzheimer belum dapat disebuhkan menggunakan berbagai metode medis. Ketika dokter berhasil mengetahui seseorang mengidap penyakit Alzheimer tentu itu hal yang sangat baik.

Hal tersebut memberi kesempatan kepada pasien untuk mendapatkan berbagai jenis obat yang telah diresepkan untuk menunda penyebaran dan mengurangi beberapa jenis gejala.

Bagaimana Kerja Kecerdasan Buatan Untuk Memprediksi Penyakit Alzheimer?

Para peneliti dari kelompok riset Big Data in Radiology (BDRAD) berkolaborasi dengan Dr. Benjamin Franc dari University of California di San Francisco (UCSF) melakukan pembelajaran mendalam untuk melihat perubahan pada metabolisme otak yang merupakan prediksi awal dari penyakit Alzheimer.

Tim peneliti melatih AI algoritma dengan memberikan pelajaran yang mendalam mengenai teknologi pencitraan atau biasa disebut dengan Fluorodeoxyglucose Positron Emission Tomography (FDG-PET). Fluorodeoxyglucose (FDG) adalah senyawa glukosa radioaktif yang disuntikkan ke dalam darah pasien saat menjalani pemindaian FDG-PET. Pemindaian PET kemudian dapat mengukur serapan FDG dalam sel-sel otak, yang akan mengindikasikan aktivitas metabolisme.

Para peneliti menggunakan data dari Alzheimer’s Disease Neuroimaging Initiative (ADNI) sebuah organiasi yang fokus terhadap uji klinis untuk meningkatkan pencegahan dan pengobatan penyakit Alheimer. Kecerdasan buatan dilatih secara mendalam menggunakan dataset sampai dengan 90% dan sisanya 10% digunakan untuk melakukan uji coba. Melalui proses pembelajaran yang mendalam ini, algoritma AI mampu belajar dan mengajari dirinya sendiri untuk memprediksi penyakit Alzheimer.

Melalui proses yang panjang tersebut, para peneliti berhasil membuat AI yang dapat memprediksi penyakit mencapai 100% kepada 40 pasien, hasilnya menunjukkan ke 40 pasien tersebut diprediksi mempunyai penyakit dengan waktu prediksi lebih cepat 6 (enam) tahun sebelum diagnosis dokter.

Setelah mendapatkan kemajuan yang luar biasa tersebut, kini para peneliti fokus untuk melatih AI algoritma untuk mencari tahu pola yang berhubungan dengan akumulasi beta-amiloid, protein tau, gumpalan protein abnormal yang merupakan penanda khusus penyakit Alzheimer

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here